Hari ini, Kamis (20/5) diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) dan pada tahun ini, . Usia yang matang untuk kita memaknai Harkitnas dengan sikap optimisme dalam menghadapi pandemi covid-19.
Sebagai seorang guru momen harkitnas bisa kita gunakan untuk membakar semangat dalam melaksanakan proses pembelajaran baik itu dalam jaringan (daring), luar jaringan (luring) ataupun Tatap Muka Terbatas (TBM) dengan mencontoh kegigihan Dr Soetomo dalam mendirikan Boedi Oetomo.
Dr Soetomo beserta kawan-kawannya tak pernah lelah hingga terbentuk sebuah organisasi yang bergerak di bidang sosial, ekonomi, dan budaya. Kehadirannya sebagai organisasi pertama membuat Organisasi Budi Utomo menjadi pelopor bagi gerakan kebangsaan di Indonesia. Kehadiran Budi Utomo itu kemudian disusul dengan berdirinya organisasi-organisasi yang lain, seperti Sarekat Islam, Indische Partij, Muhammadiyah dan beberapa organisasi pemuda dan pergerakan lainnya.
Sejumlah sekolah menjadi saksi kelahiran organisasi Budi Utomo diantaranya sekolah pertanian dan kehewanan di Bogor, sekolah pamong praja pribumi di Magelang dan Probolinggo, sekolah menengah petang di Surabaya, dan sekolah-sekolah pendidikan guru pribumi di Bandung, Yogyakarta dan Probolinggo.
Harkitnas kali ini mengangkat tema “Bangkit! Kita Bangsa yang Tangguh!”. Tema ini dipilih sebagai pengingat bahwa semangat Kebangkitan Nasional dapat mengajarkan kita untuk selalu optimis dalam menghadapi masa depan. Selain itu, bersama-sama kita juga bisa menghadapi semua tantangan dan persoalan sebagai penerus ketangguhan bangsa.
Tujuan peringatan 113 tahun Kebangkitan Nasional adalah untuk terus memelihara, menumbuhkan dan menguatkan semangat gotong-royong kita sebagai landasan dasar dalam melaksanakan pembangunan. Serta selalu optimis menghadapi masa depan, untuk mempercepat pulihnya bangsa kita dari pandemi Covid-19.
