Oleh : Rina Meilani, S.Pd.SMA Negeri 1 Indralaya (Ogan Ilir Sumatera Selatan)
Di tengah pandemi COVID-19 ini, para guru diharapkan selalu berinovasi dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar, agar siswa tidak bosan dalam mengikuti kegiatan belajar dari rumah seperti anjuran pemerintah. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi beberapa guru, karena inovasi yang dilakukan oleh guru juga harus memperhatikan kendala-kendala yang ada selama pembelajaran daring.
Kemendikbud mencatat ada tiga kelompok besar dalam pembelajaran daring ini : 1) mereka yang mampu melaksanakan pembelajaran secara daring melalui platform pendidikan yang sudah ada sebelumnya seperti ruangguru, rumah belajar dan berbagai platform lainnya yang bersifat interaktif, 2) mereka yang belajar dengan sistem semi daring. Sehingga tidak interaktif karena semua tugas akan dikirimkan lewat aplikasi pesan singkat, seperti WhatsApp dan 3) mereka yang tak mampu melaksanakan kegiatan belajar mengajar secara daring, karena tidak ada sarana dan prasarananya.
Agar pembelajaran daring tetap dapat terlaksana untuk ketiga kelompok besar tersebut, khususnya untuk kelompok ketiga, penggunaan media pembelajaran yang dapat digunakan secara offline adalah solusinya.
Sujana dan Rivai (2010: 4) menyatakan bahwa penggunaan media tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan perannya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran. Salah satu bentuk media pembelajaran tersebut adalah penggunaan komik pembelajaran.
Komik dapat diartikan sebagai rangkaian gambar masing–masing dalam kotak yang keseluruhannya merupakan rentetan satu cerita. Gambar–gambar itu pada umumnya dilengkapi balon–balon ucapan dan ada kalanya masih disertai dengan narasi sebagai penjelas. Dalam kaitan ini, komik dapat dipahami sebagai simulasi gambar dan teks yang disusun berderet per adegan untuk kemudian menjadi sebuah cerita (Rahardian dalam Nurgiyantoro, 2005: 409).
Konsep pembelajaran dengan media komik adalah dengan menyajikan gambar-gambar dengan deretan alur cerita. Gambar-gambar yang disajikan tentu saja tidak terlepas dari kaidah komik. Cerita akan muncul dari pengertian berdasarkan gambar komik yang dilihat oleh siswa sehingga mereka mampu mendapat ide dan mengolah atau mengembangkan kreatifitas.
Hal ini yang memotivasi saya untuk mengikuti Pelatihan Daring Buat Komik Digital yang diadakan oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) bekerjasama dengan Jaringan Sekolah Digital Indonesia (JSDI), Narasi dan Kitabisa.com, dari tanggal 19 sampai dengan 26 Oktober 2020 melalui aplikasi Zoom Meeting dan grup telegram. Pematerinya adalah Bapak Ode Abdurrahman dari Jaringan Digital Sekolah Indonesia dan Keynote Speakernya adalah Bapak M. Ramli Rahim yaitu Ketua Umum PP IGI.
Pada pelatihan ini, peserta diberi materi membuat media pembelajaran berupa komik digital yang dapat digunakan untuk semua mata pelajaran serta semua tingkatan sekolah. Materinya terbagi dua yaitu pembuatan komik digital dengan HP android (menggunakan aplikasi Comica) dan pembuatan komik digital dengan laptop (menggunakan aplikasi Comic Life 3).
Setelah pemberian materi, baik melalui Zoom Meeting maupun grup telegram, peserta diminta membuat komik pembelajaran menggunakan gawai dan laptop, sehingga diperoleh dua lembar komik pembelajaran.
Pembuatan komik digital menggunakan aplikasi Comica pada gawai ternyata lebih praktis dan mudah, namun variasi dari panel komik, template dari aplikasi Comica masih terbatas juga dalam hal pengeditan gambar dan balon percakapannya. Sedangkan pembuatan komik digital menggunakan aplikasi Comic Life 3 pada laptop lebih banyak variasinya dan templatenya untuk komik dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembuatan komik.
Setelah berhasil membuat komik digital menggunakan gawai dan laptop, saya mencoba membuat video tutorial cara membuat komik digital dengan aplikasi Comica dengan link https://youtu.be/kQ0o1CFyW14 dan pembuatan komik menggunakan aplikasi Comic Life 3 pada link https://youtu.be/bhmO_1FtHRs
Dalam masing-masing video berdurasi sekitar 9 menit tersebut, saya menjelaskan cara membuat komik digital menggunakan fitur-fitur pada kedua aplikasi tersebut. Dapat dibandingkan, hasil pembuatan komik menggunakan laptop dengan aplikasi comiclife 3 lebih bervariasi dengan berbagai pilihan template yang telah disediakan.
Selain video tutorial pembuatan komik, saya juga memberikan bonus berupa pembuatan video pembelajaran dengan animasi gerakan tangan menggunakan aplikasi Explee dan pembuatan video pembelajaran menggunakan aplikasi Animaker.
Semoga video tutorial ini dapat bermanfaat untuk membantu para guru dalam membuat komik digital sebagai salah satu pilihan media pembelajaran di tengah pandemi COVID-19 ini.