Oleh : Diah Kustinah
Guru SMA Negeri 3 Lahat Sumatera Selatan
Mengapa guru ingin merdeka dalam belajar? Terinspirasi dari sebuah judul lagu “Bebas Merdeka” karya Steven And Coconut Treez, seperti yang telah alam ajarkan pada kita, tidak ada satupun yang akan menghentikan langkah kita untuk melakukan sesuatu, bergerak dan bekerja. Berusaha memberi kebahagiaan bagi diri sendiri bukan sekedar mendapatkan sesuatu.
Pandemi Covid-19 telah menghantam sektor pendidikan dan mengubah wajah pendidikan di Indonesia ke era digitalisasi. Terlebih pada saat pidato Menteri Pendidikan di hari Guru Nasional tiba-tiba menjadi popular dan telah menjadi viral. Istilah konsep merdeka belajar yang digaungkan oleh Pak Menteri Nadiem Makarim memunculkan berbagai respon. Perubahan yang signifikan dengan latar belakang yang fenomenal seputar teknologi digital menimbulkan pesimisme dan pro-kontra begitu cepat mengemuka, memvonis gagal sebelum dicoba.
Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan adalah hal yang penuh dengan ketidaknyamanan. Perlu direnungkan terhadap suatu perubahan, kita sikapi dengan bijaksana, jangan terburu kaget dan cepat mengadili dan membandingkan dengan sistem sebelumnya. Bukan tanpa alasan pak menteri terdorong karena keinginannya menciptakan suasana belajar yang bahagia tanpa dibebani. Era merdeka belajar memberikan kepercayaan setinggi-tingginya kepada guru untuk berkreasi dan berinovasi sebagai spirit ekosistem pendidikan. Kita pelajari dahulu apa hakikat dari guru merdeka belajar.
Menurut Najelaa Shihab, 2016 mengatakan bahwa: “Proses kemerdekaan itu sebetulnya bukan diberikan, tapi sesuatu yang kita gerakkan,” artinya segala kegiatan guru adalah sebuah proses sama-sama belajar seperti proses emansipasi tidak diberikan tetapi harus direbut dengan memposisikan diri sebagai subjek. Sumber:https://blog.kampusgurucikal.com/kemerdekaan- belajar/
Pandemi Covid-19 memberikan dampak yang besar pada pendidikan di Indonesia. Semua pendidik harus bisa mengajar jarak jauh yang notabene harus menggunakan teknologi atau intinya pendidik harus membiasakan mengajar online.
Pada awalnya kebijakan ini dianggap tepat dan cara terbaik untuk melindungi siwa dan pendidik dari paparan Covid-19. Kecanggihan teknologi sedikit membantu kendala dalam bidang pendidikan. Namun seiring perjalanan waktu, pada praktiknya pembelajaran daring memiliki banyak kendala dan keterbatasan. Hambatan tersebut dapat dilihat dan dirasakan dari berbagai aspek, seperti tidak meratanya jaringan internet dan fasilitas teknologi yang kurang memadai. Keterbatasan dana untuk mengakses internet dan alat penunjang untuk komunikasi lewat jejaring menjadi sumber kegelisahan orang tua dan murid. Kegelisahan juga melanda para pendidik yaitu keterbatasan kompetensi guru dalam pemanfaatan aplikasi pembelajaran, juga merasa pembelajaran daring dinilai tidak cukup efektif untuk mata pelajaran dan materi pelajaran tertentu yang tidak bisa semuanya terpenuhi.
Dengan keterbatasan yang ada, pendidik mulai selektif memilih materi yang diajarkan, disesuaikan dengan kebutuhan, memilih aplikasi yang mau digunakan dan mudah dimengerti oleh peserta didik, serta dapat memotivasi siswa agar tetap semangat belajar secara daring.
Penulis adalah seorang guru mata pelajaran Biologi, merasa bagian dari sejarah perjalanan ekosistem pendidikan berkeyakinan bahwa kekuatan terbesar dari seorang pendidik adalah ketika mampu beradaptasi, dan mampu melakukan perubahan pada dirinya untuk bisa berdamai dalam pembelajaran. Kemerdekaan belajar adalah sesuatu yang harus digerakkan. Sudah saatnya kita bergerak untuk memulai berinovasi dan berkarya. Materi pelajaran yang penulis sampaikan identik dengan tatap muka dan praktikum, sekarang mau tidak mau harus tatap muka secara virtual. Penulis berusaha mengemas materi dengan penyajian dibuat tetap menarik dan tidak membosankan siswa, yang jelas jangan sampai kehilangan ide. Beruntung sekali penulis bisa mengikuti diklat daring yang diselenggarakan oleh IGI Surabaya melalui kanal pelatihan SAMISANOV (Satu Minggu Satu Inovasi), IGI Lahat, dan IGI OKU. Awalnya coba-coba saja dengan bermodalkan IT yang pas-pasan penulis mengikuti diklat daring dan webinar yang bertemakan pendidikan. Akhirnya membuat penulis menjadi ketagihan, karena merasa mendapatkan manfaatnya dan menambah wawasan pengetahuan
Langkah-langkah yang penulis lakukan dalam pembelajaran daring adalah:
Membuat grup WA dan grup Telegram untuk setiap kelas.
Untuk memudahkan interaksi antara peserta didik dan guru, WA dan Telegram sangat membantu dalam penyampaian informasi dan berkomunikasi atau sekedar sharing mengenai tugas-tugas yang harus dikerjakan. Baik WA maupun Telegram keduanya mempunyai keunggulan.
Membuat Classroom melalui GCR dan G-meet
Untuk bergabung dalam GoogleClassroom siswa diberikan kode kelas dan dapat berkomunikasi lewat forum. Guru dapat menshare materi dan tugas yang sudah virtual siswa dapat bergabung ke dalam Googlemeet dengan kode yang akan dishare oleh guru.
E-Modul
Keunggulan E-modul adalah tampilannya menarik, mempunyai fitur yang interaktif untuk pembelajaran, dan segala perpaduan aplikasi ada di sini, baik itu video maupun Google Form, guru juga bisa menggunakan voice untuk menjelaskan materi.
Video pembelajaran dan Youtube
Video pembelajaran ini dibuat melalui aplikasi Kinemaster. Siswa dipersilah- kan membuka link youtubenya untuk menyimak dan mempelajari kegiatan yang dilakukan oleh guru. Masa pandemi Covid-19 ini tidak semua materi bisa tersampai- kan secara detail apalagi yang berhubungan dengan kegiatan praktikum. Guru dapat melakukan kegiatan melalui metode demonstrasi.
Website Pembelajaran melalui Google Site
Situs web layanan ini gratis lho.. bisa membuat situs web sekaligus mengelola dan menambahkan konten dengan mudah. Bukan hanya itu, Google Sites juga memberikan kesempatan untuk menambahkan berkas lampiran, serta menambahkan aplikasi Google lainya seperti Google Form, Youtube, Google Calendar, dsb.
Canva
Canva adalah salah satu contoh platform desain yang dibutuhkan di dalam pembelajaran berbasis proyek untuk mengembangkan kreatifitas dan keterampilan kolaboratif. Hasilnya wow…. tampilan poster dan flayer karya siswa lebih keren.
Sway
Sway merupakan aplikasi baru dari microsoft sebagai sarana storytelling untuk para peserta didik, bisa untuk membuat resume, presentasi atau laporan kelas, portofolio personal dan pelajaran yang lebih menarik.
Dari berbagai platform yang ditawarkan, memberi kesempatan bagi pendidik untuk mengeksplor pengetahuannya, menumbuhkan inovasi dan kreatifitasnya belajar untuk kemudian diharapkan menjadi solusi terbaik untuk meminimalisir kendala dalam pembelajaran jarak jauh dengan tetap memperhatikan standar kualitas pembelajaran, di mana para pendidik harus tetap mengedepankan literasi, numerasi serta pendidikan karakter.
Apresiasi hasil kerja peserta didik sangat perlu diberikan oleh guru, agar mereka merasa bermakna dan dihargai, meskipun belajar jarak jauh sapaan, respon, umpan balik, reward atau penghargaan terhadap peserta didik tetap harus dilakukan.
Kerja sama yang baik berbagai pihak yang terlibat tentunya sangat berpengaruh, perlu keselarasan dan saling bersinergis dalam mewujudkan tujuan pendidikan yang berkualitas dan bermakna.
Semoga pandemi Covid-19 ini segera berlalu dan menjadi hikmah bagi kita semua untuk tetap survive dalam menciptakan iklim pendidikan yang humanis dan bermakna.
Artikel pernah dimuat di buku antologi ” Inovasi Guru Hebat Nusantara” Samisanov 18 IGI Surabaya.
