Oleh
Eka Fitriani, S.Pd.
(Ketua Bidang Literasi IGI Sumatera Selatan)
Buku-buku berjejer rapi di atas meja dan di dalam lemari. Buku baru maupun lama menanti untuk dijamah. Apakah manusia sudah terlalu jemawa untuk membuka buku ?
Bukan hal yang harus diherankan, jika saat ini orang-orang sudah mulai mengabaikan buku dan cenderung beralih ke gawai. Tampilan platform media sosial yang lebih menarik membuat daya baca terhadap buku menjadi minim. Padahal, tidak dapat dipungkiri bahwa mata manusia pun lebih awet menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar ponsel. Apalagi semua bisa diakses lebih cepat dan mudah.
Saya merasa menjadi manusia yang beruntung saat ini karena buku selalu menjadi ‘santapan wajib’ setiap hari sewaktu kecil. Didongengkan sebelum tidur, dibacakan buku cerita adalah hal rutin yang selalu dilakukan oleh Ibu. Banyak sekali koleksi buku-buku bacaan yang saya miliki saat itu. Ibu pun tak pernah sekali pun mengeluh untuk sedikit menyisihkan uang belanja untuk membeli buku yang saya inginkan.
Membaca peta adalah hal yang sangat saya sukai sewaktu masih duduk di bangku sekolah. Apalagi peta dunia. Saya masih ingat kalimat seorang guru IPS di bangku Sekolah Dasar dulu. Beliau berkata bahwa jika seseorang bisa pergi ke mana pun melalui sebuah peta.
Sempat saya tercengang karena tidak paham. Namun, setelah mempelajari peta sebuah daerah, mengetahui letaknya, sumber daya alam yang terdapat di sana, adat istiadatnya, makanan tradisional, bahasa daerah sampai dengan hal terkecil sekali pun, tanpa disadari benar bahwa kita telah berada di sana meski secara tidak langsung. Dari sana, saya semakin mencintai buku.
Seperti dilansir pada halaman https://tirto.id/hari-buku-sedunia-23-april-world-book-day-kematian-para-penulis-gddG, masyarakat dunia tengah merayakan hari buku nasional atau World Book Day hari ini, tanggal 23 April 2021. Sejarah bermula ketika UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organizations mengumumkan tanggal bersejarah ini. Mengapa harus diperingati?
Konon, waktu ini dipilih karena bertepatan dengan meninggalnya William Shakespeare dan penulis sejarah terkenal dari Spanyol, Inca Garsilaso De La Vega.
Sebagai sebuah organisasi internasional, UNESCO menginginkan bahwa hari ini adalah hari penting untuk diperingati demi memaknai dan memotivasi semua orang tentang pentingnya membaca buku.
Dilansir dari halaman yang sama pun, UNESCO pula menyebutkan beberapa manfaat positif yang bisa didapat ketika membaca buku, seperti memperkuat otak, mengurangi depresi, meningkatkan rasa empati, membangun asosiasi rasa hangat dan bahagia bersama anak-anak di rumah, meningkatkan kosakata, meningkatkan kepercayaan diri, membangun keterampilan berkomunikasi yang baik sampai dengan memperkuat mesin prediksi otak manusia.
Apakah perayaan hari buku dunia ini wajib diperingati dan dirayakan termasuk di Indonesia?
Tergantung individu masing-masing. Peringatan hari buku dunia memang bukanlah hal wajib untuk dirayakan, namun paling tidak ikut berpartisipasi di dalamnya adalah wujud tindakan apresiasi diri sendiri sebagai bagian dari peradaban manusia.
Ada banyak sekali yang bisa dilakukan untuk ikut berpartisipasi merayakan hari buku dunia ini, seperti mendonasikan buku ke perpustakaan terdekat, mengajak anak membaca buku bersama, membacakan dongeng kepada anggota keluarga, bahkan membaca buku-buku lama yang ada di perpustakaan keluarga di rumah.
Lalu, bagaimana dengan Anda?

